Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Monomer Kehidupan

Sekat Tanpa Batas

Bicara Tentang Perasaan Batasan dalam merasakan ternyata juga diperlukan. Sulit saat perasaan bahagia berangsur menjadi sedih. Mudah saat perasaan sedih berbayar dengan kebahagiaan. Maka dari sekian cerita, ada senyum kepedihan juga air mata kemenangan. Kadang, keduanya tidak diterjemahkan demikian karena tidak semua orang perlu mengetahui kisahnya disuatu keadaan. Mana yang lebih bahagia? Tawa menyenangkan atau tangis mengharukan ? Lebih menyedihkan senyum kepedihan atau air mata tak terhentikan ? Kenapa pula harus dibandingkan… Pada buku goodbye, things! Fumio Sasaki berkata, “Kebahagiaan yang mampu kita rasakan nempunyai batas;” Tapi, apa mungkin beberapa masih tidak menyadari tentang hal itu? Hingga suatu kebahagiaan dapat berujung pada kehilangan yang lepas kendali. Rasa bahagia, sangat mudah membuat kita lupa tentang waktu dan Sang Pencipta. Saat bahagia, kita bisa jadi tidak kehilangan apa-apa, melainkan diri sendiri. Seolah-olah yang dirasakan hanya kebahagiaan hingga jiwa k...

Ungkapan dari (tanpa) Suara

Bagaimana mendengar sebuah rahasia yang tidak pernah bersuara?  Kaki manusia menapaki permukaan bumi, sebuah kenyataan bahwa gravitasi dan kerendahan hati menjadi ‘awal’ untuk mengukir perjalanan hidup lebih meringankan. Segala arah yang dituju merupakan pertimbangan dan pemikiran dari kebutuhan atau keinginan. Kemudian, manusia akan bercerita mengenai perasaannya sebagai jawaban dari sebuah perjalanan. Ya, tujuan tidak selalu berwujud tempat, perasaan selalu mampu mengambil alih kedudukan dari keindahan yang terlihat. Beberapa tempat singgah pun kelak menjadi kenangan dan pemandangan adalah teman berbicara –sudah pukul berapa? Malam? Siang? Atau pagi? –mungkin… begitu. Melangkah pada kehidupan, seperti berjalan tanpa alas kaki; kita mengetahui dan merasakan apa yang kita pijak –bahkan jika sudah terasa hambar . Merencanakan sesuatu pun akan terasa sebagaimana mencari jalan keluar dalam hutan belantara; kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya telah hadir menunggu. Begitu cara m...

The Tall Building Without Capacity

Bangunan menjulang tinggi berlomba mencapai langit; karena tanah yang dibeli tidak cukup luas untuk bisa menampung keinginannya. Tersusun ruangan-ruangan dengan segala bentuk, ada yang lebih luas juga ada yang lebih sempit, tapi tetap saja semua terkesan cukup jika barang-barang yang dibeli bukan karena rasa tamak –bukan sebatas keinginan semata. Saking tingginya, awan-awan menjadi pemandangan untuk siapapun yang hadir pada bangunan itu, bahkan mereka dapat melihat bulan lebih dekat dibanding orang lain kebanyakan. Jika, bangunan ini adalah tempat tinggal maka ia tidak akan pernah kosong; tapi sayang, tidak banyak yang menjadikannya sebagai tempat tinggal. Love is like a building without definite capacity . S eperti bangunan tanpa kapasitas, cinta demikian adanya. Bertambahnya kecintaan terhadap sesuatu akan menentukkan porsi pada bangunan itu. Ia dapat menambah ruang baru, memperluas ruangannya sendiri, dan deretan nama akan menjadi ‘barang’ diruangan yang sudah ditentukkan. Mereka, d...

Malam dan Kebahagiaannya

Kebahagiaan Dalam Bentuk yang Tidak Menyenangkan      Langit malam penuh dengan sekelompok bintang, ada yang menyendiri, ada yang memutuskan untuk tidak bersinar padahal ia tetap setia pada posisinya. Sejuta hari telah dilewati jiwa yang mengisi kehidupan seorang bintang, tapi sinarnya yang terlalu sedikit tidak mungkin mencapai sosok yang benar-benar ia ingin sinari, ‘Andai jiwa ini ada ditubuh kehangatan malam yang bersinar luas –menjadi dirimu, Bulan.’ Kehangatan bulan mulai menyoroti wajah bintang mungil dan kecil itu, ‘Hidup terlalu banyak seandainya…banyak hal yang membuat jiwa menjadi lebih redup termasuk kata-kata pengandaian…’      Bulan ternyata mempunyai jalannya sendiri untuk bisa menerima keadaan yang ‘kurang’, ia tidak dianugerahkan sinar miliknya sendiri; ia hanya meminjamnya dari sosok baik Matahari. Namun, keadaan tidak menyenangkan ini bukan untuk tidak dibahagiakan. Dari sinar itu, ia sadar mengenai bahagia-bahagia yang terlalu sering ber...

Tentang Segelas Kehidupan

Ada sebuah kutipan yang membuka pemikiran menuju ide dan solusi cemerlang dari manusia-manusia pintar muka bumi. Kata Albert Einstein, “Once we accept out limits, we go beyond them” Bagaimana caranya melampaui batas yang seharusnya menjadi kekurangan dan kelemahan? Sebagian akan menebak, bahwa kutipan ini hanyalah sifat optimistik dan cara bicara orang-orang sukses yang membuatnya terkesan sangat berdampak. Manusia tentu memiliki derajat tertinggi dibandingkan makhluk lainnya, lebih pintar dari binatang, memiliki kehendak sendiri tidak seperti tumbuhan. Ketiganya pun memiliki cara berbeda dalam menjalani hidup masing-masing. Dalam definisi yang sangat sederhana, kehidupan tiap manusia dapat diumpakan sebagai sebuah ‘gelas’ – dia bisa diisi dengan apa saja . Ada titik dia sudah penuh, ada juga saat dia kosong, tapi satu hal yang kita perlu tahu bahwa mencapai titik terlalu penuh dapat membuat sebagian hal menjadi sia-sia. Kecuali, jika ada tanaman dibawah gelas yang terlalu penuh itu –...

Butterflies and Flowers

If you’re not born as a flower. Maybe you’re a butterfly. Semua manusia tentu dilahirkan dalam keadaan yang berbeda-beda, ada yang memiliki hal lebih dibandingkan manusia lain ataupun sebaliknya. Kita mungkin, tidak sadar tapi, hal ini sudah dialami semenjak kita lahir, bahkan saat sedang dalam kandungan. ‘If you’re not born as a flower. Maybe you’re a butterfly.’ Ungkapan ini saya maksudkan, bahwa dalam hidup keadaan awal yang kita dapatkan bukan menjadi kuasa kita ataupun pilihan milik kita. Namun, semakin besar, ‘sekarang’ merupakan waktu untuk memilih dan ‘masa depan’ adalah risiko dari hal yang kita pilih. Keadaan awal tidak pernah menjadi suatu kesalahan, seperti itulah kondisi lahiriah yang ditemukan saat seseorang baru menggengam cahaya pertama kehidupan. Sebuah bunga, akan selalu menjadi bunga walaupun ia belum dalam keadaan mekar. Warna yang begitu cantik dan semerbak harumnya menjadi keindahan tersendiri. Ia tumbuh, dari pohon ataupun dari batang kecil miliknya, dengan air ...

Pertanyaan yang Melelahkan (1)

Sudah seberapa keras usaha yang saya perjuangkan? Saya rasa, semua pernah menanyakan hal tersebut kepada keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan. Sebagian bilang, itulah serangkaian ‘ujian’ hidup. Kata-kata seperti itu kadang membuat lelah dan rasanya semua yang diusahakan hanya sebatas terkait hasil. Tapi, sebagian pula berpikir bahwa lulus dari ‘ujian’ adalah kebanggaan, sebuah proses yang ditempuh untuk menjadi versi yang paling baik dari diri kita. Berbeda dengan ujian-ujian sekolah,‘ujian’ hidup tidak sesederhana ditanyakan lalu menjawab. Hidup tidak hanya terkait jawaban benar atau salah. Hidup seperti lembaran kertas kosong, dimana kita menulis pertanyaan dan menjawabnya sendirian dengan atau tanpa bantuan. Apa yang kita akan tanyakan kepada diri sendiri? Sepertinya detik ini, kita akan menanyakan dan menggambarkan bagaimana masa depan yang akan dijalani. Namun, bukankah tidak ada yang benar-benar bisa menjawab? Hanya masa depan yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Tenang ...

Nilai dari Sebuah Komentar

Tubuh menjadi tempat manusia untuk bisa hidup. Merasakan yang namanya berwujud, bernafas, dan berdetak. Jika saat bercermin, kamu menemukan ketidaksempurnaan fisik. Hal itu tidak lebih dari kewajaran yang mengajarkan kita tentang rasa penerimaan. Suatu saat kita akan sadar, pada dasarnya semua ini hanya sebuah tempat singgah yang mau bagaimana pun diakhiri dengan kata selamat tinggal. Ya walaupun, beberapa manusia mudah untuk berkomentar tentang fisik yang sebenarnya hanya bagian eksternal dari diri kita. Mungkin juga, karena dianggap eksternal, komentar soal fisik tidak lagi sebuah hal tabu, ia suka disandingkan dengan kalimat-kalimat menyatakan bahwa yang dikatakan tidak lain adalah fakta. Bagaimana pun juga, berkomentar tidak pernah jadi suatu larangan, tapi apa yang kita coba komentari selalu saja bisa menggambarkan bagaimana cara kita memandang manusia lain. Seperti, saat seseorang berkomentar tentang cara berpakaian orang lain. Secara tidak langsung kita dapat berpikir bahwa ia s...

Manusia dan Kata-kata Maaf

Menjadi pribadi yang pemaaf adalah perbuatan ikhlas mendasar untuk menjalani serangkaian perjalanan dalam hidup. Kata Papa saya,  “Ketika telah akrab dengan kata maaf, kita akan selalu mempunyai tenaga lebih karena tidak lagi perlu menunggu permohonan maaf dari orang lain untuk sekedar bisa memaafkan.”  Saya rasa, menjadi versi baik seperti itu akan sangat sulit. Apalagi, setiap manusia cenderung ingin dihargai dan dilindungi perasaannya dengan sangat hati-hati. Bagaimana kalau hal itu bisa dipermudah oleh orang lain juga diri sendiri ? Tentunya, dengan belajar menjadi orang yang mudah mengutarakan “maaf” seperti saat mengucapkan “terima kasih” Kita mengetahui bahwa setiap orang memiliki batas kewajaran berbeda. Disaat orang lain mengganggapmu salah, belum tentu hal terpikirkan juga olehmu. Biasanya hal ini terjadi ketika hal-hal yang tidak kita sadari ternyata dengan sangat mudah dapat menyakiti perasaan orang lain. Permasalahan seperti ini cenderung membuat kita lebih suka ‘...

Memaafkan Diri Sendiri

Mengapresiasi, memaklumi, bahkan memaafkan adalah hal yang sering kita lihat dari sudut pandang orang lain. Hal itu dapat dikatakan sebagai "pengharapan diri dari lingkungan sekitar" padahal banyak manusia yang mendapati kecukupan diluar dari mengharapkan lingkungannya tersebut. Sebagai contoh apresiasi, pemakluman, pemaafan tidak melulu harus kita dapatkan dari orang lain melainkan, dari kecintaan kita terhadap diri kita sendiri atau sering disebut self loving.  Jika kita mencintai lingkungan sekitar, maka hal - hal kecil dapat kita maklumi. Dan dengan hal tersebut kita akan mulai mencoba meyakini bahwa manusia tidak lepas dari kesalahan karena salah satu cara dalam belajar memperbaiki diri adalah dengan rasa bersalah . Termasuk diri ini, sebagai manusia tentu kita melakukan kesalahan yang kadang menurut kita mungkin dapat terhindarkan, namun sesuatu yang sudah terjadi tidak mungkin lagi terhindarkan . Maka salah satu cara untuk mengikhlaskan kesalahan adalah menyadari ba...

Apa yang Harus Dipeluk ?

Memeluk bukan hanya persoalan rindu, ia juga memberi makna berupa tanda "penerimaaan" . Pada kehidupan, kita perlu memeluk dualisme dan hukum alam tentunya, merekalah yang membuat hidup ini berputar namun tetap pada suatu poros berupa penerimaan. Dualisme kehidupan salah satu contohnya adalah sifat negaitif dan positif, ia ada ditiap manusia agar dapat memanusiakan manusia. Tentu, manusia dapat merasa marah, risau, was-was, bahkan curiga. Disisi lain, sifat-sifat positif seperti sabar, toleran, penuh kasih sayang juga harus mulai dibangun agar semua penuh dengan seimbang.  Kebanyakkan orang akan mengatakan bahwa sifat negatif harus dibuang jauh-jauh, dikesampingkan, kalau bisa dilenyapkan. Namun, sebagian prespektif lain berbicara bahwa kehidupan diciptakan dengan segala keseimbangan. Sifat baik dan buruk tentu merupakan keseimbangan yang harus dipeluk agar dapat perwujudannya sebagai bentuk penerimaan. Tidak dipungkiri, dalam menjalani suatu pesoalan rasa marah atau curiga d...

Saat Kita Berkomentar

Kehidupan selain menunggu tentu akan menghasilkan pilihan-pilihan, semua bergantung pada pemillik sanubari entah memilih sesuai kebutuhan atau memilih seesuai keinginan. Mengomentari hidup orang lain dapat dikategorikan sebagai pilihan. Tapi, dalam koteks mengomentari harus ada batasan-batasan. Batasan ini lah yang terkadang sulit untuk dimengerti karena sejatinya mengomentari sudah bukan pilihan namun menjadi kebiasaan. Untuk sekarang-sekarang ini bisa kita lihat sederet jumlah artis yang terseret kasus narkoba. Sebagai contoh yakni salah satu pelawak srimulat yang bernama Nunung. Disini ada banyak aspek yang bisa kita ambil sebagai orang yang tidak mengenal Nunung secara langsung. Semisal, ketika berita itu keluar netizen  sudah ramai membicarakan bahwa suaminya lah yang menyeret Nunung untuk mengonsumsi. Tapi buktinya? Nunung memberikan keterangan sebaliknya. Entahlah siapa yang harus dipercaya, sing penting orang-orang yang telah berkomentar sebelum ada keterangan tersebut seb...

Mengapa perlu Menunggu ?

Menunggu adalah kegiatan yang mengabadikan tiap perasaaan dan memaksa lenyap semua prasangka buruk. Saat menunggu, kita akan menautkan harap, merajut angan, dan bersimpuh pada kenangan serta merindukan kepastian. Tapi tidak ada yang harus dipercepat. Nyatanya, menunggu akan membuaut manusia-manusia menjadi dewasa, meyakini skenario tuhan, dan belajar menggantung harap tidak disembarang tempat. Menunggu menjadikan pribadi lebih sabar dan mengerti bahwa ada banyak momen-momen menuggu di kedepannya sepeti menunggu kelulusan, menunggu jodoh, menunggu sukses dan tidak lain detik-detik itu diisi dengan usaha, kebijaksanaan, dan doa syahdu.  Kalau benar, hidup kita adalah proses menunggu selalu ada perencaan untuk kedepan dan sisa waktu untuk mewujudkannya tidak lain ada masa emas ini, masa menunggu. Semua momen akan menjadi waktu tunggu, dan masa tunggu akan menjadi momen-momen biasa di hari mu. Ingat! setiap kamu menunggu pasti ada yang ditunggu, pasti ada yang datang. Lihatlah ...

Ketika Perjalanan Sudah Berakhir

Mengenal kematian dirasa menakutkan. Padahal, kematian adalah salah satu keharusan dalam menggapai dualisme kehidupan bagaikan Ying and Yang . Apalagi, manusia berusia muda ia terlalu takut atas cita-cita yang dianggap masih terlalu jauh untuk digapai. Namun, bagaimana perasaan para pejalan yang lebih lama menempuh? Telah melewati setengah kehidupan saja belum tentu sadar sembari ditinggalkan lebih dulu oleh teman-temannya. Maka dari itu, rasanya akan sama. Menakutkan . Rasa takut mana mungkin pandang usia, entah tentang masa lalu atau yang akan datang.  Menempuh kehidupan akan terasa seperti roda berputar atau roller coaster,  ia tidak memiliki sudut tapi kerap kali ada yang merasa tersudutkan. Itulah guna mengenali arti kematian, membuat kian mengerti tentang makna sesungguhnya dari roda dan bagaimana bisa terasa tersudutkan. Disisi lain, Kematian dapat diibaratkan sebagai cermin. Cermin yang merefleksikan jati diri serta bayangan semu yang berisi rahasia hidup. T...