Skip to main content

Posts

Pertanyaan yang Melelahkan (1)

Sudah seberapa keras usaha yang saya perjuangkan? Saya rasa, semua pernah menanyakan hal tersebut kepada keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan. Sebagian bilang, itulah serangkaian ‘ujian’ hidup. Kata-kata seperti itu kadang membuat lelah dan rasanya semua yang diusahakan hanya sebatas terkait hasil. Tapi, sebagian pula berpikir bahwa lulus dari ‘ujian’ adalah kebanggaan, sebuah proses yang ditempuh untuk menjadi versi yang paling baik dari diri kita. Berbeda dengan ujian-ujian sekolah,‘ujian’ hidup tidak sesederhana ditanyakan lalu menjawab. Hidup tidak hanya terkait jawaban benar atau salah. Hidup seperti lembaran kertas kosong, dimana kita menulis pertanyaan dan menjawabnya sendirian dengan atau tanpa bantuan. Apa yang kita akan tanyakan kepada diri sendiri? Sepertinya detik ini, kita akan menanyakan dan menggambarkan bagaimana masa depan yang akan dijalani. Namun, bukankah tidak ada yang benar-benar bisa menjawab? Hanya masa depan yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Tenang ...

Nilai dari Sebuah Komentar

Tubuh menjadi tempat manusia untuk bisa hidup. Merasakan yang namanya berwujud, bernafas, dan berdetak. Jika saat bercermin, kamu menemukan ketidaksempurnaan fisik. Hal itu tidak lebih dari kewajaran yang mengajarkan kita tentang rasa penerimaan. Suatu saat kita akan sadar, pada dasarnya semua ini hanya sebuah tempat singgah yang mau bagaimana pun diakhiri dengan kata selamat tinggal. Ya walaupun, beberapa manusia mudah untuk berkomentar tentang fisik yang sebenarnya hanya bagian eksternal dari diri kita. Mungkin juga, karena dianggap eksternal, komentar soal fisik tidak lagi sebuah hal tabu, ia suka disandingkan dengan kalimat-kalimat menyatakan bahwa yang dikatakan tidak lain adalah fakta. Bagaimana pun juga, berkomentar tidak pernah jadi suatu larangan, tapi apa yang kita coba komentari selalu saja bisa menggambarkan bagaimana cara kita memandang manusia lain. Seperti, saat seseorang berkomentar tentang cara berpakaian orang lain. Secara tidak langsung kita dapat berpikir bahwa ia s...

Manusia dan Kata-kata Maaf

Menjadi pribadi yang pemaaf adalah perbuatan ikhlas mendasar untuk menjalani serangkaian perjalanan dalam hidup. Kata Papa saya,  “Ketika telah akrab dengan kata maaf, kita akan selalu mempunyai tenaga lebih karena tidak lagi perlu menunggu permohonan maaf dari orang lain untuk sekedar bisa memaafkan.”  Saya rasa, menjadi versi baik seperti itu akan sangat sulit. Apalagi, setiap manusia cenderung ingin dihargai dan dilindungi perasaannya dengan sangat hati-hati. Bagaimana kalau hal itu bisa dipermudah oleh orang lain juga diri sendiri ? Tentunya, dengan belajar menjadi orang yang mudah mengutarakan “maaf” seperti saat mengucapkan “terima kasih” Kita mengetahui bahwa setiap orang memiliki batas kewajaran berbeda. Disaat orang lain mengganggapmu salah, belum tentu hal terpikirkan juga olehmu. Biasanya hal ini terjadi ketika hal-hal yang tidak kita sadari ternyata dengan sangat mudah dapat menyakiti perasaan orang lain. Permasalahan seperti ini cenderung membuat kita lebih suka ‘...

Memaafkan Diri Sendiri

Mengapresiasi, memaklumi, bahkan memaafkan adalah hal yang sering kita lihat dari sudut pandang orang lain. Hal itu dapat dikatakan sebagai "pengharapan diri dari lingkungan sekitar" padahal banyak manusia yang mendapati kecukupan diluar dari mengharapkan lingkungannya tersebut. Sebagai contoh apresiasi, pemakluman, pemaafan tidak melulu harus kita dapatkan dari orang lain melainkan, dari kecintaan kita terhadap diri kita sendiri atau sering disebut self loving.  Jika kita mencintai lingkungan sekitar, maka hal - hal kecil dapat kita maklumi. Dan dengan hal tersebut kita akan mulai mencoba meyakini bahwa manusia tidak lepas dari kesalahan karena salah satu cara dalam belajar memperbaiki diri adalah dengan rasa bersalah . Termasuk diri ini, sebagai manusia tentu kita melakukan kesalahan yang kadang menurut kita mungkin dapat terhindarkan, namun sesuatu yang sudah terjadi tidak mungkin lagi terhindarkan . Maka salah satu cara untuk mengikhlaskan kesalahan adalah menyadari ba...

Apa yang Harus Dipeluk ?

Memeluk bukan hanya persoalan rindu, ia juga memberi makna berupa tanda "penerimaaan" . Pada kehidupan, kita perlu memeluk dualisme dan hukum alam tentunya, merekalah yang membuat hidup ini berputar namun tetap pada suatu poros berupa penerimaan. Dualisme kehidupan salah satu contohnya adalah sifat negaitif dan positif, ia ada ditiap manusia agar dapat memanusiakan manusia. Tentu, manusia dapat merasa marah, risau, was-was, bahkan curiga. Disisi lain, sifat-sifat positif seperti sabar, toleran, penuh kasih sayang juga harus mulai dibangun agar semua penuh dengan seimbang.  Kebanyakkan orang akan mengatakan bahwa sifat negatif harus dibuang jauh-jauh, dikesampingkan, kalau bisa dilenyapkan. Namun, sebagian prespektif lain berbicara bahwa kehidupan diciptakan dengan segala keseimbangan. Sifat baik dan buruk tentu merupakan keseimbangan yang harus dipeluk agar dapat perwujudannya sebagai bentuk penerimaan. Tidak dipungkiri, dalam menjalani suatu pesoalan rasa marah atau curiga d...

Saat Kita Berkomentar

Kehidupan selain menunggu tentu akan menghasilkan pilihan-pilihan, semua bergantung pada pemillik sanubari entah memilih sesuai kebutuhan atau memilih seesuai keinginan. Mengomentari hidup orang lain dapat dikategorikan sebagai pilihan. Tapi, dalam koteks mengomentari harus ada batasan-batasan. Batasan ini lah yang terkadang sulit untuk dimengerti karena sejatinya mengomentari sudah bukan pilihan namun menjadi kebiasaan. Untuk sekarang-sekarang ini bisa kita lihat sederet jumlah artis yang terseret kasus narkoba. Sebagai contoh yakni salah satu pelawak srimulat yang bernama Nunung. Disini ada banyak aspek yang bisa kita ambil sebagai orang yang tidak mengenal Nunung secara langsung. Semisal, ketika berita itu keluar netizen  sudah ramai membicarakan bahwa suaminya lah yang menyeret Nunung untuk mengonsumsi. Tapi buktinya? Nunung memberikan keterangan sebaliknya. Entahlah siapa yang harus dipercaya, sing penting orang-orang yang telah berkomentar sebelum ada keterangan tersebut seb...

Mengapa perlu Menunggu ?

Menunggu adalah kegiatan yang mengabadikan tiap perasaaan dan memaksa lenyap semua prasangka buruk. Saat menunggu, kita akan menautkan harap, merajut angan, dan bersimpuh pada kenangan serta merindukan kepastian. Tapi tidak ada yang harus dipercepat. Nyatanya, menunggu akan membuaut manusia-manusia menjadi dewasa, meyakini skenario tuhan, dan belajar menggantung harap tidak disembarang tempat. Menunggu menjadikan pribadi lebih sabar dan mengerti bahwa ada banyak momen-momen menuggu di kedepannya sepeti menunggu kelulusan, menunggu jodoh, menunggu sukses dan tidak lain detik-detik itu diisi dengan usaha, kebijaksanaan, dan doa syahdu.  Kalau benar, hidup kita adalah proses menunggu selalu ada perencaan untuk kedepan dan sisa waktu untuk mewujudkannya tidak lain ada masa emas ini, masa menunggu. Semua momen akan menjadi waktu tunggu, dan masa tunggu akan menjadi momen-momen biasa di hari mu. Ingat! setiap kamu menunggu pasti ada yang ditunggu, pasti ada yang datang. Lihatlah ...